Kamis, 19 November 2015

SLAMET : GUNUNG KE SEBELAS 5,5 BULAN!

Waktu membaca : 5-6 menit

Puncak Slamet 3442 mdpl

Sebenarnya postingan saya berikutnya tentang pengalaman saya solo backpacker ke Tulungagung yang masih fresh di kepala. Namun, sejak foto '11 Gunung 5,5 Bulan' saya yang direpost oleh akun Instagram Wanita&Gunung menjadi viral di dunia per-IG-an (azekkkk), akhirnya saya memposting cerita tentang Slamet ini. Di postingan sebelumnya 10 GUNUNG DALAM 5,5 BULAN! Saya sebenarnya sok-sokan udah mau rehat dulu dari kegiatan mendaki, namun ada kesempatan nanjak bareng teman lama, ke Gunung Slamet dan sharecost pula, ya akhirnya dari 10 gunung menjadi 11 gunung dalam 5,5 bulan. Postingan ini sekaligus merevisi postingan sebelumnya loh. Jadi saya teteup dong stick sama resolusi saya 11 GUNUNG DALAM 5,5 BULAN! (maksa dikit hahaha)

***



Berawal dari celutukan saya ke teman kampus, Aya, untuk nanjak bareng ke Slamet. Waktu itu pendakian ke Slamet baru dibuka kembali setelah vakum setahun akibat erupsi. Akhirnya kesampaian ke Slamet, tapi TSnya itu dengan Mas Andis, bukan si Haris @kabutipis yang hits itu. Ya sudahlah pikir saya. Ternyata Mas Andis ini teman mainnya Bang Frans dan Bang Riswan, teman saya ke Pangrango tahun 2014 kemarin. Akhirnya fix saya ikut tim Mas Andis karena Aya pergi ke Sumbing, dengan sistem sharecost dan pulang-pergi ke Slamet naik elf dari Semanggi. By the way, elfnya bagus dan nyaman eiy. Sayang tidak ada fotonya dan mamas supirnya juga bikin kesal. Udah tahu gak tempe, eh udah tahu gak tahu jalan malah malas nanya orang. Jadi muter-muter pas balik ke Jakarta-nya -___-

Gapura Slamet via Blambangan

Nah di desa terakhir sebelum basecamp Sumbing via Blambangan terdapat pasar tradisional. Disana kita bisa belanja logistik, seperti sayuran, minyak goreng, nasi padang, aneka kue pasar, air mineral sekalian galonnya maupun buah-buahan semangka. Ketika kami tiba di pasar untuk sarapan, banyak tempat makan yang belum buka. Mau gak mau saya dan dua teman cewek, yaitu kak Surya dan kak Yosye, makan nasi uduk sisaan. Lumayan murah dan enak sih buat yang lagi lafar hahaha. Oh iya desa sekitar pasar tradisional itu setiap harinya ada pemadaman air, waktunya tidak tentu. Kadang pagi, siang atau sore. Tidak menentu juga berapa lama padamnya. Dan untuk desa terakhir di kaki Gunung Slamet, info si ibu penjual nasi uduk, airnya diambil di desa sekitar pasar dan dibawa pakai mobil pick up loh. Saran saya sih hemat air ya disana karena air sulit sekali didapat oleh warga disana. Untuk mandi setelah pendakian mending menumpang di pom bensin aja :)

Gagahnya Gunung Slamet dari depan masjid

Pasar tradisional dengan basecamp Slamet jaraknya tidaklah jauh. Kami tiba di depan masjid dekat basecamp saat matahari sudah naik. Ganti pakaian, packing ulang, bagi-bagi logistik dan air, dan ujung-ujungnya cari 1 porter sewaan. Kami sewa porter untuk 2 hari, membawa banyak botol air minum ukuran 1,5 liter (karena takut kurang air) dan beberapa logistik. Oh iya, porter kami disana tidak memiliki carrier loh. Cari penyewaan carrier di sekitar basecamp juga tidak ada. Mau gak mau si bapak porternya bawa logistik dan botol air pakai karung, ditenteng di bahu! Waaah. Jadi buat kalian yang mau sewa porter, jangan dadakan ya. Pastikan juga si porter memiliki carrier atau tidak supaya si bapak bisa dipinjamin carrier dan barang yang dibawa oleh si bapak porter maksimal.

Registrasi didaftarkan oleh Mas Andis, saya lupa biaya regisnya berapa. Untuk posisi basecamp resmi Gunung Slamet, posisinya ada di sebelah kanan dan beberapa meter setelah masjid. Pendakian akhirnya dimulai. Jreng jreeeeeeeeeeeng hahahaha. Setelah di'hajar' oleh tanjakan setelah masjid, kami berselfie ria dulu depan gapura sebagai bukti sudah ke Slamet :P hehehe. Setelah gapura ada jalan makadam lurus ke depan dan ada papan penanda untuk belok kanan. Belok kanan ini sebagai jalur resmi pendakian menuju Pos 1, melewati ladang-ladang warga. Karena kami memakai jasa porter, kami diajak si bapak untuk jalan lurus mengikuti jalan makadam walaupun banyak warga yang melarang dan meminta untuk lewat jalur resmi. Yaaah apa daya mau gak mau ikut si bapak porter, katanya lebih gampang dari makadam. Trek di jalan makadam ini masih tanjakan malas nan imut, nafas masih senin-sabtu. Tapi ya itu, tanpa pohon di kiri kanan jalan jadi panasnya amit dah. Mana yang bikin sedih, ladang tomat dan sayuran warga di sisi kanan jalan banyak yang rusak karena kemarau. Tomat, sawi, sayuran lain dibiarkan begitu saja :(  Saran lagi nih dari saya, IKUTILAH JALUR RESMI PENDAKIAN! Kalian yang baca post saya jangan coba-coba lewat trek makadam tanpa porter ya! Karena sesungguhnya setelah jalur makadam itu, menuju Pos 1 itu tidak gampang. Banyak jalur bercabang! Apalagi jalur makadam ini sepi banget pendakinya. Yakin dah lewati jalur ini tanpa porter bisa membawa kesesatan! :(

Basecamp Gunung Slamet

Saya tidak akan membahas banyak soal trek pendakian Gunung Slamet via Blambangan aka Bambangan di postingan ini. Dan buat kalian yang membacanya, jangan berharap banyak pada si Slamet ini kecuali pulang dengan s-e-l-a-m-a-t. Karenaaaaa, treknya naik terus bok! Jangan berharap deh dapat trek landai-landai cantik. Semakin ke puncak, semakin membuat urat kaki dan paha menegang. Apanya yang teganggg? Ya urat itunya hahaha. Urat kaki paha plus tangan plus seluruh badan juga sih maksudnya. Nah kalau Gunung Cikuray kan treknya nanjak terus tapi jarak antarpos tidak jauh. Kalau Gunung Slamet ini, udah antarpos jauh banget, treknya sering pakai kaki tangan, debunya tebal berasa pakai make-up yang putih banget di muka hitam di leher, kabutnya alabil bak abege labil, tidak ada sumber air pula! Namun enaknya itu, yang enaknya dikit jadi gak dibuat bold biar ngarepnya gak ketinggian, ada warung di Pos 1 yang jual buah-buahan, kopi teh, dan gorengan! Lumayan kan segerin mulut. Dan enaknya lagi, sepanjang jalur resmi dari basecamp ke Pos 7 adem ayem, banyak dikelilingi pepohonan. Bisa hemat air.

For your information, mendaki gunung itu dingin suasananya dan jalurnya naik terus loh. Ada yang naik terus dan terus, ada yang pakai drama naik turun belok kanan kiri dulu terus naik lagi gitu. Puncak tidak pernah se-mdpl dengan pemukiman warga. Camkan itu! Camkan! Hahaha.

Makan siang di salah satu pos

6 jam pendakian (kalau tidak salah ya) akhirnya tiba juga di camping area dadakan yang melipir jalur dan miring, di atas Pos 5 dan di bawah Pos 6. Info dari blog pendaki lain dan teman yang sudah pernah kesana, yang dibuktikan oleh mata kepala saya, tempat yang masuk akal buat mendirikan tenda itu adanya di Pos 5 dan Pos 7 karena lahannya datar dan ada shelternya! Namun apa daya, dua tempat ini menjadi incaran semua pendaki. Apalagi weekend, kedua pos ini bakalan penuh. Jangan berharap dapat spot ini kalau kalian sampai disana sore. Yang tidak mendapat bagian, mau gak mau harus cari spot lain. Lebih baik cari spot yang lebih ke atas lagi biar summitnya tidak terlalu jauh. Walaupun yang pastinya tidak akan mendapatkan spot enak buat tidur alias spot miring.

Salut!

Dari tempat camp saya hingga Pos 7 memakan waktu 1,5 jam dengan trek yang teteup menanjak dan jalurnya semakin sempit dan rapat. Naik terus tanpa bonus. Dingin makin mencekam saat shubuh tiba. Namun hal tersebut akan terbayarkan kok kalau kalian sudah berada di Pos 7 karena puncak Slamet sudah terlihat. Nah di pos ini akan ada semacam peta pendakian yang ditempel di dinding shelter. Beristirahatlah sebentar saja untuk melihat petanya sembari mengatur nafas. Apabila kalian telat summit, setidaknya kejarlah Plawangan Pos 8 untuk melihat matahari terbit. Plawangan ini berada diatas Pos 7 dimana jalur menuju Plawangan terbuka, berbatu, dan teteup dong menanjak. 


Di bawah Plawangan Pos 8

Salah satu spot foto kece di Slamet ya di Plawangan Pos 8 ini. Dari spot ini kalian akan melihat lautan awan berpadu ranting pohon sebagai pemanis pemandangan, seperti foto diatas. Kece banget dah, asli. Apalagi kalau ada mataharinya. Aduhai. Nah pos ini beneran di bawah Puncak. Namun jangan salah. Puncak yang kalian lihat dari pos 8 ini bukanlah puncak sesungguhnya hahaha. Setelah kalian berada di puncak yang kalian pikir dan kalian lihat adalah puncak dari Pos 8, agak naik lagi sedikit maka itu lah puncak sesungguhnya. Puncak impian, titik tertinggi di Jawa Tengah dan kedua tertinggi di Pulau Jawa.

Untuk mencapai puncak, aturlah mood dan semangat kalian sebaik mungkin. Hal itu sangat membantu kalian agar tidak gampang down. Karenaaaaa saat kalian melangkah ke atas dari Plawangan Pos 8, kalian akan berhadapan dengan trek batu kerikil. Capek dan rasanya jauh sekali. Lebih enak sih sebenarnya karena tidak terlalu merosot seperti trek ke Puncak Mahameru. Namun, wajib hati-hati ya karena yang dihadapi ini adalah trek batu. Sangat berbahaya sih menurut saya kalau ceroboh dalam melangkah. Saya saja sudah hati-hati, memakai gaiter, dan trekking pole masih juga terpeleset. Untung tidak terjun bebas -_____-

Trek saat turun dari puncak

 Nah, foto diatas adalah sedikit gambaran menuju puncak. Posisinya ini yaitu puncak palsu yang kalau kita lihat dari Plawangan Pos 8. Nah jalan sedikit ke arah kanan maka itulah puncak sesungguhnya. Nanti di puncak akan ada plang "Mount Slamet 3428 MASL". Pemandangan dari puncak lumayan bagus menurut saya, view instagramble. Kalian akan melihat kawah nun jauh disana, dimana untuk ke kawah kalian harus turun dari puncak terus naik lagi untuk melihat kawah. Banyak sih yang hunting foto ke sana. Saya cukup puas berdiri di puncak dan melihat sekitar dengan jelas.

Kawah di depan saya

 Bersyukur saat itu seluruh anggota tim pendakian mendarat di puncak dengan Slamet, dengan saya orang terakhir sampai puncak. Bukan karena apa, saya terlalu menikmati treknya. Mood bagus, semangat tinggi, putar playlist lagu favorit semua. Perpaduan pas menuju puncak. Capeknya hilang, treknya berkesan. Ya tapi gitu, tetap aja dilamain karena saya sadar akan rindu trek itu suatu saat nanti hehehehe. Plus sebenarnya di trek ke puncak saya selalu perhatiin orang yang naik turun. Saya belum ketemu sama sekali dengan Rahel dan Tari, teman saya di Argopuro yang sama-sama mendaki Slamet dengan tim berbeda. Khawatir sih karena Rahel kan harusnya bareng saya ke Slamet tapi tim saya sudah penuh. Dan doi tetap berangkat dengan mengajak Tari dan teman pendakian Rahel yang lain. Huvt. Ternyata mereka lagi santai coy di bawah puncak! Saya langsung lari menemui mereka, bodo amat sama pandangan pendaki lain. Akhirnya ketemu juga, khawatirnya meluap :")

Atas kiri-kanan : Om Jarwo-Ujang-Saya-Surya-Evi-Frans-Andis-Riswan
Bonar-Sukma-Yosye-Budi di (bukan) puncak Slamet

Tim yang ketje banget. Orangnya, semangatnya, kebaikannya, perlengkapannya, kameranya juga hahaha. Semoga suatu saat nanti bisa naik bareng lagi dengan mereka semua. Setelah puas berfoto ria, kami pun turun. Saya yang pernah jatuh di trek turun Argopuro langsung merinding. Trek turunnya membuat dengkul lemas. Bagaimana tidak trek naiknya aja udah parah, gimana turunnya. Mau melakukan atraksi ski pasir seperti Semeru, tidak akan bisa. Bisa-bisa jadi mayat di bawah sana. Saya turun sangat lambat, berhati-hati sekali. Dan terima kasih buat trekking pole dan Mas Andis yang baik banget nungguin saya turun. Jujur saya takut sekali pas turunnya. 

Dari pos 7 hingga tempat tenda kami lalui dengan bergelut bersama debu tebal. Mau gak mau harus dilalui. Kabut tebal dan dingin datang saat kami selesai packing pulang padahal jam masih menunjukkan pukul 1 siang. Trek turun benar-benar dihajar, minim istirahat dan pasti 'bedak' di muka dan badan makin tebal dan hitam. Beda dengan ketika mendaki naik, banyak istirahat lamanya plus lumayan tidur beberapa menit hahaha. Dan saya sempat bertemu lagi dengan Rahel dan Tari saat trek turun dan di warung Pos 1. Bahagiaaaaaa.

Saya-Rahel-Tari

Jangan lupa tiap ke gunung bawa buff atau masker dan kacamata hitam ya. Dua benda ini sangat berguna sekali. Bisa buat penutup hidung, kepala dari debu dan sebagai alat penambah kekecean saat foto :P

Ternyata oh ternyata, trek resmi dari Pos 1 ke basecamp sangat jauh. Lebih jauh dibanding dari trek makadam. Rimbun, masih melewati ladang warga, treknya jelas tapi jauh. Saya kebingungan dimana titik pertemuan jalur makadam dengan jalur resminya. Sampai detik ini saya belum menemukan titik pertemuan mereka. Saya juga heran kenapa lewat jalur ini lama sekali sampai ke basecamp. Dan saat saya turun lewat trek ini, saya bersama Ujang, Kak Yosye, dan sebotol air minum. Untung saja, karena kemarin treknya sepi dan melelahkan. Hanya beberapa kali ketemu pendaki lain. Tak terasa ketemu gapura, kami bahagia sekali. Badan, kaki, paha tegang semua . Kami berjalan kaki bak zombie-zombie di TV Serial The Walking Dead!

Ceweknya berempat, gak sengaja Batak semua

Alhamdulillah pendakian kami ke Gunung Slamet 3428 MASL berjalan sukses dan sampai rumah dengan s-e-l-a-m-a-t! ^_^ Walaupun beberapa hari setelah pendakian, saya masih berjalan seperti zombie dan horor seketika melihat tangga hahahah. Apakah saya akan kembali? Yaaaa! Tapi saya tidak tahu kapan waktunya. Apakah saya kapok? Tidaaak! Saya suka trek dan pemandangannya. Akhirnya saya sampai di puncaknya, padahal bulan-bulan sebelumnya saya takut karena saya baca cerita 'horor' kematian beberapa pendaki di Slamet akibat kabutnya hahaha. Ya begitulah, rasa takut dan mindset yang negatif akan selalu kalah dengan niat dan tekad. CHEERS! :)

Terima kasih buat tim pendakian saya kali ini
--------------------------------------------------------------------------
1. Mas Andis : bertanggungjawab, jago masak dan nasi liwet buatannya enak banget.
2. Kak Yosye : cantik imut lucu nyenangin anaknya.
3. Kak Surya : aku kirain ini nama cowok. baik banget, partner masak.
4. Kak Evi : bersih, rapi, dan suka sama bentuk kukunya yang bagus dan terawat.
5. Bang Frans : ini mah temen ke Pangrango, jago motret jalannya cepet.
6. Bang Riswan : ini mah temen ke Pangrango juga, diam-diam jalan terus doi mah.
7. Bang Bonar : abang yang sedarah Batak, baik bangets, baru kali ini ngomong Batak di gunung.
8. Bang Budi : pendiam sih kayaknya, beberapa kali saja saya liat doski ngomong.
9. Ujang : rameee, doi suka nonton serial sinetron Turki yang lagi hits.
10. Om Jarwo : belum bisa baca tipikal si Om bagaimana sih, sering naik bareng Mas Andi.
11. Bang Sukma : anaknya pas turun dari puncak cepat bgt, rajin sholat.

*Beberapa foto diatas diambil dan milik Bang Frans, Bang Sukma dan Kak Yosye.


Terima kasih sudah membaca. Selamat bertemu di postingan selanjutnya ya!


***

  /ˌmaʊn.tɪˈnɪər/

3 komentar: